Tri Hardian Satiawardana on May 12th, 2011

“Sejauh yang aku tahu, jika tidak menjilat pemimpinnya, para menteri pasti merencanakan persekongkolan untuk melawannya. Dan, aku tidak akan pernah menjadi salah satu dari keduanya.”

(as-Syaikh ar-Rais Abu Ali ibn Sina, ketika ditawari jabatan menteri oleh Sultan as-Syam al-Dawlah, sebagaimana tercantum dalam biografinya, “Tawanan Benteng Lapis Tujuh” oleh Husayn Fattahi)

Cukup relevan untuk dibaca pada hari ini, tanggal 12 Mei 2011

Tri Hardian Satiawardana on March 19th, 2011

[Karya Tulis pada saat masih mengajar di sebuah SMAN di kota Surakarta, 2007]

Abstraksi

Informasi mengenai materi pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kini banyak tersebar baik di internet, media massa, maupun berupa bahan pustaka. Berbagai sarana tersedia untuk mengakses informasi ini sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang seimbang. Hal ini menuntut guru mata pelajaran TIK untuk membuat solusi pengelolaan informasi.

Tujuan pengelolaan ini adalah agar siswa sebagai peserta didik bisa mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka di bangku sekolah. Guru bisa memilih dan memilah informasi sehingga sesuai dengan kurikulum yang berlaku sekarang yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Karena sifat KTSP yang bisa dikembangkan oleh sekolah sebagai satuan pendidikan, maka sekolah bisa menambahkan beberapa materi pembelajaran yang dirasa perlu. Dengan latar belakang di atas, diperlukan sebuah sistem pengelola informasi yang fleksibel, yaitu Content Management System (CMS).

Dengan menggunakan CMS, guru tidak berdiri sendiri sebagai pengelola informasi. Ia bisa bekerja sama dengan guru TIK satuan pendidikan lain, guru mata pelajaran selain TIK, bahkan dengan siswa. Hal ini dimungkinkan karena CMS adalah sebuah sistem manajemen web terbuka yang bisa dikelola oleh orang banyak. Dengan dikelola oleh komunitas pendidikan, diharapkan informasi yang tersampaikan bisa komprehensif, mudah dimengerti dan tepat sasaran.

Tri Hardian Satiawardana on March 19th, 2011

[Tugas Akhir, Bandung, 2004]

Latar Belakang

Sistem Informasi Geografis dengan dukungan data spasial merupakan alat bantu visualisasi lokasi yang efektif. Dengan data ini, seorang user bisa menerima gambaran jelas kondisi sebuah kasus, sehingga bisa mengambil keputusan atas sebuah masalah secara lebih seksama.

Di lain pihak, masih banyak gangguan pada jaringan telepon tetap. Perbaikan yang dilakukan oleh bagian Jaringan Lokal (Jarlok) PT Telkom umumnya bersifat sporadis, kondisional dan tidak permanen. Pemantauan kerusakan ini akan lebih mudah bila menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dalam waktu tertentu, data gangguan yang terkumpul akan terangkum untuk merencakan pemeliharaan jaringan periode berikutnya. Di samping itu, kemampuan SIG untuk menyederhakan perencanaan dengan adanya data visual menjadi kelebihan yang signifikan bagi dipakainya sistem informasi ini [Catanese 88].

Rumusan Masalah

Perencanaan pemeliharaan jaringan telepon tetap tidak lepas dari masalah mengklasifikasikan jenis-jenis kerusakan yang akan terjadi. Untuk melakukan perencanaan pemeliharaan jaringan telepon tetap, diperlukan sebanyak mungkin data SIG. Penelitian ini akan melakukan analisis terhadap apa yang bisa dilakukan pada proses perancangan pemeliharaan itu. Pemeliharaan perlu diatur sedemikian rupa agar dalam waktu yang lama, jaringan telepon tetap terjaga dalam kondisi yang baik. Perencanaan pemeliharaan sebaiknya merupakan hasil analisis menyeluruh dan terdokumentasi [Herrick 92].

Hasil akhir analisis ditekankan pada perencanaan prioritas perbaikan. Ini meliputi misalnya daerah mana saja yang didahulukan. Hasil analisis idealnya mampu mengidentifikasi gangguan dan penyebabnya untuk melakukan predictive maintenance, sehingga peralatan perbaikan dan pendukungnya selalu tersedia bila dibutuhkan. Dengan demikian waktu perbaikan (repair time) bisa dikurangi [Ebeling 97].

Tujuan

Secara umum, perencanaan pemeliharaan bisa dilakukan apabila data representatif, yaitu data gangguan diambil dalam selang 6 bulan ketika musim hujan, karena pada periode tersebut kerusakan biasanya paling banyak terjadi. Berdasarkan data ini disusunlah rencana pemeliharaan tahun anggaran berikutnya. Perencanaan dilakukan melalui tahapan-tahapan yang dirumuskan sebagai tujuan penelitian, yaitu sebagai berikut:

  • menganalisis untuk kemudian menampilkan data spasial dan data gangguan jaringan yang diperlukan untuk perencanaan pemeliharaan jaringan menurut kemampuan SIG [Prahasta 01]
  • memberikan fasilitas kepada user untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan pemeliharaan dengan cara menyajikan data yang diperlukan
  • memberikan panduan perencanaan pemeliharaan jaringan telepon dalam bentuk program sehingga menghasilkan format laporan yang sesuai standar SIG

Batasan Masalah

Yang menjadi batasan penelitian ini adalah:

  • ruang lingkup studi kasus hanya pada satu sentral saja sebagai daerah acuan, yaitu STO Cijaura
  • sistem tidak mengantisipasi keadaan diluar kebutuhan sistem, misalnya ketersediaan anggaran, peralatan, dan ketidakmampuan sumber daya manusia
  • sistem bukan merupakan pendukung pengambilan keputusan, sehingga dari segi perancangan maupun analisis keluaran, berbeda [Turban 01]

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  • studi literatur, mempelajari teori-teori yang mendasari penelitian ini. Yaitu teori jaringan lokal akses tembaga, teori manajemen perencanaan pemeliharaan (perawatan) dan Sistem Informasi Geografis
  • pengumpulan data, mengumpulkan data spasial maupun non spasial untuk keperluan visualisasi, meliputi data jaringan eksisting, data gangguan, dan data lain yang diperlukan untuk perencanaan pemeliharaan jaringan
  • analisis kebutuhan dan perancangan sistem, menganalisis kebutuhan perencanaan pemeliharaan jaringan untuk membuat pemodelan sistem
  • implementasi, proses implementasi model ke dalam sistem sesuai tujuan penelitian, yaitu integrasi antara data dan user interface
  • evaluasi dan analisis sistem, pengetesan melalui feature yang ada dalam user interface terhadap sistem yang sudah final
  • dokumentasi dan penyusunan laporan, kegiatan dokumentatif dan administratif penelitian

Tri Hardian Satiawardana on March 19th, 2011

In 2006, the University of Washington’s Provost charged a special task force with taking a comprehensive look at the University’s critical information technology needs. After three months of intensive investigation, the IS Futures Task Force found that the University of Washington (UW) did not have a clear vision or long-term strategy for the administrative systems that support its core business operations or for the information management essential for running a complex enterprise.

Without a clear vision and strategy, there was no institutional context for prioritizing information management and administrative systems projects or allocating resources, and no framework for understanding how individual requests would help meet the UW’s long-term needs.

The University of Washington Strategic Roadmap for Information Management and Administrative Systems (Roadmap) was developed in response to the task force findings.

The Roadmap sets forth a long-term vision for the future of UW information management and administrative systems aligned with the institution’s business goals and priorities. It provides a strategic framework for prioritizing projects, making decisions, and allocating resources. It outlines an action plan with fi ve key initiatives to meet the enormous range of challenges the UW faces in providing administrative systems and information to support a large, diverse, and global institution.

[This post is only temporary.. Awaiting inspiration.. , Regards, THS]

Tri Hardian Satiawardana on April 15th, 2009

Cetakan Kedua

Alhamdulillah, buku pertama saya sudah terbit beberapa waktu yang lalu. Lebih bersyukur lagi sudah mengalami cetak ulang. Berkolaborasi dengan mantan wartawan Tempo (Zuhaid), kami menulis buku tentang “Internet”. Bermula saat kami berdua sama-sama mengajar di sebuah sekolah menengah di Solo, kami berencana membuat buku Internet untuk pelajar SMP-SMA. Barangkali karena melihat pangsa pasar yang lebih baik, penerbit akhirnya menjadikan buku kami terbit untuk umum.

Kami juga diundang oleh penerbit MASMedia Buana Pustaka, Surabaya, untuk membedah buku kami pada saat Bazar Buku Murah 2009 yang diselenggarakan oleh Jawa Pos. Meski semua baru pertama kalinya, pengalaman ini semua ternyata sangat berharga. Saat ini penerbit sangat membutuhkan para penulis, tidak jarang penulis dijadikan rebutan oleh beberapa penerbit. Artinya, peluang menulis buku masih sangat terbuka lebar.

Semoga dunia perbukuan semakin maju dan bisa memajukan dan mencerdaskan bangsa ini. Amin…

Berikut ini daftar isi dari buku kami:

1 SEPUTAR INTERNET

  • PENDAHULUAN
  • INTERNET
  • INTERNET SERVICE PROVIDER
  • DOMAIN
  • SISTEM TARIF INTERNET
  • Tarif Speedy
  • Tarif Indonet
  • BERBAGAI CARA KONEKSI KE INTERNET
  • Provider Telkom
  • Hotspot
  • Koneksi dengan Modem Handphone
  • TV Kabel
  • Koneksi Satelit
  • WebTV
  • Listrik
  • WEB BROWSER

2 MENCARI INFORMASI DI DUNIA MAYA

  • SEARCH ENGINE
  • SEARCHING
  • Language Tools
  • PENCARIAN CANGGIH DENGAN GOOGLE
  • SEARCH ENGINE LAINNYA
  • Yahoo
  • Search
  • Ask
  • Altavista
  • TRANSFER FILE
  • Apa itu Download?
  • Upload File
  • Mendownload Video di Youtube
  • Download MP3 di Multiply dan Google
  • MENGENAL FTP

3 BERKOMUNIKASI DI DUNIA MAYA

  • ELECTRONIC MAIL
  • MAILING LIST
  • MAILING LIST?
  • MULAI MEMBUAT MAILING LIST
  • Mendaftarkan Milis di YAHOO! GROUPS Directory
  • BERGABUNG DENGAN MAILING LIST
  • CHATTING
  • mIRC
  • Yahoo! Messenger

4 MEMBANGUN JARINGAN SOSIAL DI DUNIA MAYA

  • SOCIAL NETWORKING SITES
  • BLOG
  • WordPress
  • Multiply dan Blogger
  • YOUTUBE

5 LEBIH LANJUT DENGAN INTERNET

  • PERANGKAT KERAS INTERNET
  • INTERNET PROTOCOL ADDRESS
  • BEBERAPA HAL PENTING MENGENAI PERANGKAT INTERNET
  • Error dalam Perangkat Internet
  • Memahami Access Point
  • TREN INTERNET

Tri Hardian Satiawardana on January 20th, 2009

[Sebuah Kata Pengantar Karya Tulis tentang Integrasi Pembelajaran Teknologi Informasi dengan Islamic-based Education, 2005]

Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad yang baru saja lampau berlangsung dengan sangat cepat. Di berbagai penjuru dunia diketemukan banyak hal yang sebelumnya hanya menjadi khayalan manusia. Sejak Icarus memimpikan manusia bisa terbang, selama ribuan tahun itu pula manusia harus menunggu. Wright bersaudara mewujudkan impiannya itu pada abad yang lampau. Hal ini merupakan salah satu puncak pencapaian peradaban manusia sebagai hasil proses belajar yang mengeluarkan Eropa dari Zaman Kegelapannya.

Kemajuan yang amat pesat ini juga membawa dampak yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Penyakit semacam HIV/AIDS, keroposnya lapisan ozon, menghilangnya hutan hujan tropis, dan fenomena global lainnya membuat kita harus menoleh kembali ke belakang. Pertanyaan, “Benarkah ini efek samping dari peradaban?” diajukan untuk menjadikan kita waspada pada konsekuensi setiap perubahan yang kita buat. Kloning yang kita lakukan pada domba akhirnya berbuah upaya kloning pada manusia, dan bukannya pada usaha memperkembangbiakkan satwa langka yang hampir punah. Pilihan disajikan, dan manusia telah memilih.

Demi hal yang sifatnya sementara, manusia semakin giat melakukan eksploitasi pada Mother Nature. Perhatian ke arah penyelamatan bumi pun menjadi usaha yang nyaris sia-sia seandainya tidak didukung oleh kekuasaan. Bahkan, kekuasaan itu sendiri seringkali diraih dengan jalan melakukan eksploitasi pada sumber daya alam. Dari titik inilah diketahui seberapa jauh hasil proses belajar manusia telah mampu mengubah wajah dunia. Proses ini ternyata tidak bisa berpaling dari Hakikat, Penyebab Utama semua kejadian yang ada di alam semesta.

Pendidikan yang berbasis manfaat dan kesinambungan harus segera digagas. Manfaat diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan dan perdamaian, sedangkan kesinambungan diperlukan sebagai proses pewarisan ilmu kepada generasi yang akan datang. Landasan yang paling konkret dan aplikatif dari pelaksanaan model pendidikan ini adalah Tauhid pada Tuhan, Allah SWT. Allah telah menggoreskan pena sebagai petunjuk hidup manusia. Goresan ini tidak diciptakan untuk sekedar diketahui saja. Pemahaman akan makna yang ada di baliknya merupakan penerang dalam setiap jalan yang ditempuh manusia.

Teknologi Informasi muncul sebagai aplikasi ilmu pengetahuan yang tidak berbatas. Ia mendekatkan jarak antar manusia dan membawa manusia pada manisnya komunikasi global. Bersama dengan itu, perangkat-perangkat peradaban seperti bahasa, kebudayaan dan teknologi turut dipaketkan dalam bentuk-bentuk digital.

Dalam dunia digital, ruang informasi tidak dibatasi oleh bentuk tiga dimensi. Pengungkapan sebuah gagasan dan pemikiran dapat pula menyertakan serangkaian petunjuk multidimensi ke arah perluasan sebuah pendapat, yang bisa ditanggapi atapun diabaikan. Struktur teks harus dibayangkan sebagai sebuah model molekuler yang kompleks. Potongan-potongan informasi harus ditata ulang, kalimat diperluas, dan kata-kata harus diberi penjelasan saat itu juga. Dan hubungan-hubungan ini bisa dirangkai pada saat “terbitnya” informasi itu ataupun oleh pembaca pada waktu-waktu yang akan datang. (Negroponte, 1996)

Paket-paket ini ditransmisikan melalui jaringan kabel dan udara bebas ke seluruh pelosok dunia. Infomasi lantas menjadi suatu hal yang tidak dapat dibendung karena dapat diakses oleh siapa saja. Dunia seperti dilipat karena dekatnya jarak antar manusia saat ini. Paket-paket ini juga ditransformasikan ke dalam bentuk-bentuk lokal. Informasi yang didapatkan dari satu sisi dunia akan segera diterjemahkan sehingga dapat ditangkap dengan mudah oleh masyarakat sisi yang lainnya.

Informasi ini juga adalah komoditas yang mendukung industri baru dengan sekian banyak jumlah tenaga kerja kreatif yang terlibat. Karena sifatnya yang tidak berbatas, Teknologi Informasi bebas ditransmisikan kemana saja dan ditransformasikan dalam bentuk apa saja

Transisi dari zaman industri ke dalam zaman pasca-industri atau era informasi telah merupakan bahan perbincangan sejak lama sehingga kita tidak menengarai apabila kita ternyata telah melewatinya. Zaman industri adalah zaman atom yang telah memberikan kepada kita pengertian tentang produksi massal, dengan perekonomian yang dibangun dari pabrikasi yang seragam dan berulang-ulang oleh setiap orang yang memiliki ruang dan waktu. Era informasi, era komputer, menunjukkan kepada kita skala ekonomi yang sama, tapi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pabrikasi bit bisa terjadi dimana saja, setiap saat dan, sebagai contoh, bergerak dari bursa saham New York, London dan Tokyo seolah mereka bertiga adalah mesin yang berdekatan. (Negroponte, 1996)

Teknologi Informasi tidak hanya meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer dan sistem informasi yang menjadi antarmukanya (interface) tetapi juga teknologi jaringan yang menghubungkan komputer-komputer di seluruh dunia. Melalui gerbang (gateway) yang ada di masing-masing negara, jaringan ini terjalin menjadi kesatuan yang disebut Wold Wide Web (WWW). Keterhubungan secara fisik inilah yang menjadikan ketiadaan batas ruang dan waktu seperti dikatakan oleh Nicholas Negroponte, pendiri Media Lab Massachussets Institute of Technology (MIT), terwujud.

Menjamurnya industri perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) telah mendaulat Teknologi Informasi sebagai salah satu pemimpin pasar industri dunia diantara minyak bumi, food and beverages, hiburan, media massa dan sebagainya. Perkembangan yang mengarah pada kapitalisme dan persaingan tidak sehat (monopoli) ini menimbulkan antitesis di sebagian kalangan yang merasa tidak puas. Kalangan ini berpendapat, sebagai sebuah revolusi ilmu pengetahuan, Teknologi Informasi tidak seharusnya menjadi milik sebagian orang yang mempunyai modal (capital) saja. Mereka kemudian meluncurkan terminologi Open Source sebagai sarana mengaktualisasikan ekspresi ini.

Pendidikan adalah pihak yang juga memproklamirkan diri menjadi milik setiap lapisan masyarakat sehingga negara wajib memberi fasilitas dan akses kepadanya. Kedua elemen ini akan menjadi sebuah kekuatan baru apabila penyatuannya diberi arah yang benar. Penentuan arah inilah yang mendasari perlunya dilibatkan nilai-nilai agama dalam implementasinya.

Tri Hardian Satiawardana on December 18th, 2008

[dimuat di Majalah Kampus "Podium", Bandung, 2002]

Kita akan berbaik sangka. Pendidikan memang belum memberikan apapun. Justru karena kita harus mencari ilmu itu sendiri. Tiada kita akan habis bersyukur kepada Illahi yang telah menghamparkan sajadahNya di bumi dan segenap lingkup ciptaanNya.

Problem utama pendidikan terutama adalah karena pendidikan itu belum bisa membuat murid-muridnya untuk mencari ilmu. Selama orientasinya masih pada parameter subjektif seorang guru atau dosen (baca : nilai), hancurlah apa yang dicita-citakan oleh Sang Pencipta. Bahwa kita mampu menjawab tantangan yang dihadapkan dalam bentuk peradaban, kebudayaan, kultur sosial, maupun kerusakan lingkungan. Selama pemerintah belum mampu menolak segala iming-iming menara gading menjulang tinggi sebatas cakrawala, terhimpitlah kaum pinggiran yang selama ini hanya menikmati nasi kecap sebagai hidangan mewah. Selama rakyat belum mau mengatasi rasa malas yang menggelantungi kesehariannya, maka senjata apapun yang diarahkan pada negeri tercinta ini hanya akan menjadi petualangan dalam mimpi. Selama kita masih tidak mengerti pesan para pembawa wahyu, lenyaplah keraguan Tuhan untuk memberi adzab kepada khalifahNya.

Kita akan mencoba menganalisa hal ini mulai dari pendidikan paling dasar hingga akhirnya sampai kepada apa yang sebenarnya kita butuhkan ketika kuliah.

Ketika kita duduk di SMU, bencana itu datang. Bencana yang bernama Kurikulum 1994. Saya melihat bahwa ini merupakan upaya yang terlalu berlebihan dalam mengejar ketertinggalan. Namun tampaknya pemerintah melupakan semut kecil. Parahnya, itu adalah semut hitam sang pekerja tangguh. Terlupalah bahwa seorang anak tidak akan bisa terus berada di ruang kelas. Ia membutuhkan alam bebas. Ia butuh bermain. Ia butuh lebih dari sekedar teori Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. Karena anak tidak diciptakan dengan teori. Singkatnya, ia membutuhkan praktek. Anak adalah permata. Ketika anak banyak bermain, ia akan menjadi seorang pemimpin besar. Ketika anak banyak membaca, ia akan menjadi pemikir tangguh. Ketika ia banyak berpraktek, ia akan membahagiakan masyarakat dengan ilmunya. Itulah mengapa guru SD harus menjadi pilihan pertama. Dan rupanya, itu mengharuskan anggaran pendidikan untuk berteriak, “Aku naik kelas!”

Pendidikan pula yang seharusnya menemukan bakat-bakat terpendam seorang anak. Saya merekomendasikan film “October Sky” sebagai film paling memberi inspirasi abad ini. Sebuah kisah nyata pendidikan yang romantis. Pemberian vonis kepada laporan catur wulan akan semakin menenggelamkan anak-anak pada pemikiran bahwa tidak ada satupun unsur dirinya yang bermanfaat. Karena itu, ia (sang murid) kemudian tidak berkata apa-apa kepada pendidikan. Lahirlah kemudian keengganan untuk diatur. Kedisiplinan akhirnya hanya menjadi slogan yang menempel pada punggung rompi petugas penegak disiplin nasional. Ia hanya berdiri di tengah jalan memandangi sopir sebuah bus ditodong pistol oleh pengemudi BMW yang merasa berkuasa. Pasar tradisional memiliki caranya sendiri menghambat laju sepeda. Tukang ampelas ukiran Jepara melamun membayangkan ia memiliki perusahaan ekspornya sendiri. Hingga saudara seorang pembantu rumah tangga di Malaysia cepat-cepat menutup telepon di Wartel di Turen, Malang karena rekeningnya melesat. Indonesia tidak berharga.

Ketika bayi itu akhirnya menjelma menjadi remaja, ia tidak terkendali. Katanya, ia hendak berhura-hura. Tapi masuk surga. Ia mencoba semua bilik kehidupan mencoba membuktikan teori psikolog remaja bahwa remaja adalah masa coba-coba. Guru-guru bujangan hanya tertarik mengajari para siswi. Akibatnya, para siswa mogok belajar dan dijemur di tengah lapangan sekolah. Pendidikan formal tidak akan bisa melepaskan diri dari pendidikan akhlak. Atau akhlak itu sendiri yang akan melepaskannya. Sebuah penyesalan yang amat dalam ketika para ulama’ hanya memikirkan politik. Ketika ia hanya terjun menghadapi teroris jalanan yang menguasai terminal ketika Ramadhan. Menghancurkan gerobak mie baso yang berani beroperasi saat puasa. Mari berpikir sederhana saja. Agama adalah sebuah unsur kimia. Ia akan menjadi berguna atau merusak tergantung kepada unsur apa ia digabungkan. Setepat apa perbandingannya. Namun ia akan tetap menolak untuk mengubah tembaga menjadi emas mahkota raja. Tidak seperti mimpi si Bocah dalam “Sang Alkemis” karya Paulo Coelho.

Pendidikan agama sepenting pendidikan reproduksi. Tatkala fungsi-fungsi reproduksi berkembang, ia membutuhkan penyaluran sekaligus pembatasan. Asalkan pembatasannya tidak melebihi kemampuan daya serap remaja. Kehidupan sosialnya memerlukan tempat tersendiri untuk dewasa. Akankah remaja tumbuh sebagai orang tua anti sosial, asusila, atau bersosialisasi?

Saat ini juga adalah momentum untuk menentukan arah kehidupan yang menjadi minatnya sekaligus mengeksplorasi bakat. Sewaktu remaja ingin menjadi pemusik atau seniman, orang tua tersenyum kecut. Anaknya memilih jurusan Sosial, orang tua tertawa. Okelah. Teknologi menjanjikan kehidupan yang mapan dan berkecukupan. Tapi sejauh mana hal itu menjadi kebenaran? Ilmu Alam ataupun Sosial akan kering jiwanya jika tidak dibiasakan sejak kecil. Banyaknya dialog yang dilakukan orang tua dan anak akan menjembatani jurang pemisah yang pasti ada. Sebuah komunikasi dimana akhirnya idealisme orang muda tidak terlalu ekstrim, dan pengalaman orang tua tidak menjadi penghalang. Coba kita berpikir dan mengulang sejarah. Seringkah kita bicara hal-hal yang serius dengan orang tua kita? Seberapakah perbandingan kita berkeluh kesah pada orang tua dengan curhat kita kepada teman yang bisa saja membocorkan rahasia kita?

Fungsi pendidikan adalah menjadikan anak terbuka pada kebijaksanaan. Kepada siapapun ia mencari, yang dituju adalah suasana hati yang tenteram. Pemberian hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan PR jangan sampai membuat ia benci pada guru yang bersangkutan. Pula, orang tua yang terlalu protektif. Inilah yang sebenarnya dimaksudkan oleh dosen saya dengan, “Menjadikan anak-anak berpikir dan bertindak seperti anak-anak.” Justru ketika kita merasa muda, kita harus memikirkan apa yang membuat kita nyaman dengan diri ini. Kemudian mencoba menyampaikannya pada dosen-dosen kita.

Sekarang kita sudah dewasa. Bisa bicara tentang kapitalisasi pendidikan. Marah berat ketika pelatihan-pelatihan diadakan dengan harga yang selangit. Seminar-seminar tidak menjanjikan prospek kerja yang jelas. Di satu sisi, mahasiswa menganggap nilai menentukan berapa banyak gaji kita satu bulan. Di sisi yang lain, mahasiswa lain mengatakan, “Nilai bukanlah segalanya. Idealisme adalah panduku.” Perdebatan panjang atas dasar ideologi, pergerakan, kepartaian, hingga masalah-masalah sepele seperti pacaran, mengejar-ngejar cowok, dansa-dansi di Fame Station. Pertengkaran berbau SARA. Kelompok-kelompok atas dasar agama dan status sosial dan harga handphone. Kita melihatnya bukan?

Hidup dan belajar di lingkungan teknologi akan membawa hasil yang sangat memuaskan bagi kita. Inilah kesempatan meraih cita-cita orang tua. Hidup sejahtera dengan tetap tidak meninggalkan frame berpikir kita sebagai seorang manusia yang ingin mencari kebijaksanaan di usia tua. Idealisme ternyata tidak bisa diartikan secara sempit. Sebagai penerus hidup bangsa ini, kita harus mampu memiliki semua ilmu yang dirasakan perlu. Membuka diri terhadap perubahan dan perbedaan pendapat merupakan salah satu langkah awal yang sangat baik.

Mari kita bereksperimen dengan kehidupan. Mencoba mengambil resiko dengan, misalnya, tidak mengikuti kuliah. Maka kita tidak akan terkejut ketika melihat bahwa nilai yang didapat sungguh jelek. Percobaan dengan berteori “percepatan masa kuliah” alias belajar ketika hendak ujian, kemudian kita menyesal bahwa di rumah orang tua sudah menyiapkan pidatonya. Berusaha mencari pendapatan sendiri dengan bekerja sambilan di tempat tertentu, mencari proyek di lab tertentu. Ternyata uang yang kita dapat justru habis untuk membayar SKS yang harus diulang. Itulah eksperimen.

Suatu hari kita merasa minder untuk turut terjun ke dalam kepanitiaan atau sebuah organisasi. Kita menjadi kuper dengan hanya mengandalkan orang-orang terdekat sebagai sumber informasi. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan pendapat dan usulan menyebabkan kita hanya belajar teori. Berlomba-lomba bertanya jika sang dosen menilai dengan sebuah contreng di depan NIM. Berbohong kepada dosen tentang alasan keterlambatan supaya absen kita tetap diisi. Akhirnya kita sadari bahwa hidup tidaklah seperti yang kita harapkan. Tidak usahlah kita ciptakan batas-kotak pada Curriculum Vitae.

Eksperimen belum berakhir di sini. Kebutuhan untuk memiliki Sang Pencipta mengetuk pintu hati kita supaya bangun pagi-pagi sekali. Kita terpaksa berbenturan dengan segala macam aliran yang membingungkan. Belum lagi kita terpaksa melayani pertanyaan-pertanyaan kritis dari luar, terlebih dari dalam hati sendiri. Anggaplah itu sebagai romantika kecil. Sesuatu yang pasti kita hadapi jika kita ingin naik tingkat di hadapan Illahi.

Tampaknya saya tidak salah ketika mengatakan hal yang berikut. Hubungan dosen dengan mahasiswa di universitas-universitas negara maju terlihat sangat akrab. Menurut saya, itu karena perbandingan dosen-mahasiswa yang cukup kecil. Karena perjenjangan karir dosen yang amat cepat. Sebelum usia 40 sudah meraih gelar Profesor. Dosen meneliti bekerja sama dengan mahasiswanya. Di Indonesia, dosen meneliti dengan sesama rekan dosen. Kemudian grade point-nya dibagi dengan rekannya tadi. Sehingga semakin sering dosen hanya menjadi anggota dalam sebuah penelitian, setelah pensiun pun gelarnya hanya S2. Belum lagi tesis dan disertasi yang tertunda gara-gara pembimbingnya sibuk mencari uang tambahan sebagai pengamat politik, mendirikan perusahaan, menulis, berspekulasi menanam saham. Akibatnya, mahasiswa mengeluh dosennya tidak pernah kelihatan di kampus. Dosen sibuk membimbing skripsi. Amat dilematis jika kita membicarakan kesejahteraan. Pun, kesejahteraan mahasiswa.

Satu hal yang sudah jelas. Di jenjang manapun kita belajar, baik dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, suatu cara belajar mandiri harus kita temukan. Demi kebaikan kita sendiri, mungkin. Saya ingat yang dikatakan John Nash dalam “A Beautiful Mind”, bahwa belajar di dalam kelas hanyalah akan membelenggu kreativitas. Ini bukanlah pembenaran bahwa kita tidak usah masuk kuliah saja, atau dijadikan justifikasi oleh murid atau mahasiswa yang nilainya jelek. Sebelum kita bisa memahami cara belajar yang sesuai dengan hati kita, harus terlebih dahulu mengerti apa maunya pendidikan. Yaitu bahwa kita mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah lain, dengan cara yang kreatif. Dengan cara-cara yang mampu menciptakan kita sebagai sosok yang lain dari yang lain. Sehingga tujuan hidup yang lebih luas bisa dicapai. Karena itulah kita melakukan eksperimen-eksperimen. Dan sepertinya, dosen tidak akan bisa mencegah kita berbuat demikian. Saya paling tidak suka dengan dosen yang menjadikan absen sebagai salah satu parameter nilai. Memang benar bahwa mahasiswa bisa tidak memahami bahan jika tidak kuliah. Tetapi, rupanya itu hanyalah ketakutan akan suatu peristiwa dimana kuliah sang dosen hanya diikuti oleh 10-15 orang saja. Karena cara mengajarnya tidak menarik!

Satu hal lagi yang tidak kalah penting. Sebuah keberhasilan berawal dari proses. Banyak orang yang tidak menghargai proses ini. Yang diinginkannya adalah format instan. Dalam hal pendidikan, patokannya adalah nilai. Dalam sebuah organisasi, keinginannya adalah memuaskan nafsu anggota organisasi. Lalu, mahasiswa bertingkah tidak mau tahu atau tidak berusaha tahu. Di kehidupan sehari-hari, seorang yang alim menasihati kawannya tetapi kawannya belum bisa menerima. Dan sang alim lalu pergi meninggalkannya dengan muka bersungut. Tinggallah kawannya membenci ajaran-ajarannya. Berhati-hatilah pada seseorang yang menolak pendapat anda. Itu berarti ia sedang berpikir tentang kebenaran ucapan anda. Ia membawanya ke alam mimpi. Yang adalah hasil instan tidak akan memberikan kepuasan pada perjuangan. Perjuangan belajar.

Alangkah menyenangkan bila waktu kita SMP atau SMA dulu bisa melakukan pekerjaan praktek seperti yang terdapat pada rubrik Amateur Scientist, Scientific American. Biologi menjadi tidak membosankan karena sang guru mendapatkan jatah National Geographic dari Departemen Pendidikan (dan Kebudayaan). Tapi sayangnya mimpi-mimpi Einstein belum bisa terwujud. Kita tidak bisa kembali kemasa lalu dan membunuh nenek moyang kita. Dan kita terjebak dalam ruangan antah berantah yang hitam. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan revolusi sekarang juga. Jangan kita terlampau bernafsu mengejar ketertinggalan kemakmuran tetapi pada akhirnya kita sendiri yang akan menuai badai hilangnya moralitas generasi muda. Yang bisa kita lakukan adalah menasihati dosen-dosen itu. Menasihati para Pembantu Rektor, Rektor, dan Menteri serta Presidennya. “Kami bukan boneka ataupun kaset yang bisa diputar balik secara cepat demi kesenangan indera pendengaranmu!” Dan caranya adalah dengan menemukan sendiri cara kita. Cara yang masih berada dalam koridor pengetahuan dan kebijaksanaan.

Mari kita lakukan sesuatu untuk anak-anak kita.


Tri Hardian Satiawardana on December 18th, 2008

[dimuat dalam Buletin pada salah satu Sekolah Swasta di Surakarta, 2006]

Banyaknya unsur masyarakat yang merasa tidak puas dengan metode pendidikan pemerintah menjadikan bermunculannya pendidikan alternatif. Pada dasarnya pendidikan alternatif ini menghendaki kemandirian. Kemandirian tidak hanya dalam hal kurikulum tetapi juga dari segi pengelolaan. Siswa tidak lagi dididik dengan jejalan kurikulum tertentu tetapi melalui rekayasa kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa. Bisa dibayangkan, kebutuhan siswa ini bermacam-macam dan unik sehingga memerlukan penanganan yang khusus. Pendidikan alternatif ini biasanya bersifat lokal. Hal ini berkaitan dengan ciri sosiokultural masyarakatnya. Ciri inilah yang memudahkan penyerapan lulusan sebuah sekolah ke dalam dunia kerja. Ibarat sebuah produk, sekolah dengan kurikulum alternatif ini pangsa pasarnya sudah jelas terlihat, yaitu siswa yang ingin mengembangkan diri menjadi potensi unggulan di daerahnya. Kelak, siswa tidak akan bergantung pada ibukota negara untuk bisa menyejahterakan diri dan keluarganya.

Pendidikan alternatif muncul dan dikembangkan dari konsep yang berusaha memahami karakter lokal. Bahruddin, pendiri sekolah alternatif Qoryah Toyyibah di Kalibening Salatiga menolak anak yang berasal dari desa lain masuk ke sekolahnya. Menurutnya, desa lain harus membentuk sendiri sekolahnya. Ini terjadi karena ada kebutuhan lokal di masing-masing desa yang unik dan berbeda dari desa lain. Seseorang yang hidup di masyarakat tertentu adalah wajar jika mengarahkan anaknya supaya survive di tengah-tengah masyarakat tadi. Barangkali, itulah beberapa motif yang mendasari kemunculan sekolah-sekolah alternatif. Penulis berusaha mencari rumusan yang tepat ketika sebuah sekolah hendak menerjemahkan sifat lokal tadi ke dalam tatanan global.

Yang pertama, pendidikan alternatif sekarang sudah sampai pada cluster terkecil yakni keluarga. Ini terbukti dengan ”berdirinya” homeschool pada sebagian keluarga di Indonesia. Dengan metode ini, sejak awal anak sudah diarahkan pada profesi tertentu sehingga guru-guru yang didatangkan juga spesifik. Bahkan bisa jadi sang guru adalah orangtuanya sendiri. Ijazah bukan lagi merupakan tujuan akhir sebuah pendidikan namun berupa kemandirian. Lebih konkretnya, anak diarahkan untuk menjadi wirausahawan dengan menjadi juragan sekaligus pengembang produknya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh mantan dosen UGM beserta keluarganya (Intisari Mei 2006). Ketika mencoba menerapkan konsep homeschool ke dalam sebuah sekolah, berarti anak sudah dikenali terlebih dahulu bakat dan minatnya. Ini mutlak. Dengan mengetahui bakat dan minat anak, sebuah sekolah bisa menyediakan sarana belajar yang tepat. Howard Gardner dengan teori kecerdasan jamaknya (multiple intelligence) menyebutkan 7 kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan visual/spasial, verbal/linguistik, musik, kinestetis, logis/matematis, interpersonal dan intrapersonal. Hipotesa penulis, siswa dengan kecerdasan tertentu akan lebih efektif diajar oleh guru dengan kecerdasan yang sama. Dari sini dimulailah pemilahan para siswa tadi. Bukan pada taraf cerdas tidaknya seorang anak tetapi dari cara belajarnya. Hal ini disebabkan cara belajar siswa dengan pola kecerdasan logis berbeda dari cara belajar siswa dengan kecerdasan kinestetis yang harus banyak bergerak, misalnya.

Sebagai kelanjutan wacana di atas, yang kedua, harus diciptakan arena belajar yang dialogis. Tidak dapat disangkal, siswa zaman sekarang lebih kritis terhadap situasi lingkungannya. Demokratisasi bisa ditumbuhkan melalui dialog di dalam kelas tentang bagaimana pembelajaran hari ini. Moving class menjawabnya dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih ”menu” pelajaran. Siswa bisa mendatangi kelas yang disenanginya dan menghindari kelas dimana dia tidak siap menerima pelajaran hari itu. Tentu dengan konsekuensi logis masing-masing. Dari sinilah munculnya motivasi belajar sehingga di dalam kelas, siswa menikmati pelajarannya dan gurupun mencintai siswanya yang kritis. Pola keterbukaan seperti ini akan memicu semangat belajar yang tanpa dibuat aturannya pun sudah muncul dengan sendirinya. Poin positif lainnya, siswa akan terarah dan terfokus pada bidang ilmu yang disukainya. Siswa belajar memutuskan apa yang akan terjadi dengan masa depannya. Kehilangan orientasi masa depan seperti diuraikan di Kompas, 4 Juni 2006 sedikit banyak akan tereliminir. Ungkapan siswa semacam ”belajar karena disuruh, datang ke sekolah untuk kongkow-kongkow dengan teman, bersekolah karena keharusan”, dan seterusnya akan berganti dengan ungkapan-ungkapan yang lebih bersemangat. Jadi, ”Aku memutuskan, maka aku ada.” Sebaliknya, masyarakat juga harus menghormati pilihan anak. IPS tidak ada bedanya dengan IPA.

”Demokratisasi” yang terjadi tidak hanya pada hal tersebut di atas. Pun juga dengan sopan santun dan orientasi etika. Paulo Freire menegaskan tetap harus ada pemisah antara siswa dan guru. Bukan dalam bentuk aturan-aturan yang mengikat tetapi dari dialog yang tajam dan sedikit ”otoriter”. Hal ini menjadi menarik dikaitkan dengan makin sadarnya siswa dari keluarga strata menengah ke atas tentang demokrasi. Dalam pengertian para siswa ini, demokrasi akan membebaskan mereka dari kewajiban dan tanggung jawab. Hubungan sosial dengan orang yang lebih tua –dalam hal ini guru– menjadi relatif lebih santai. Namun hal ini justru menjadi bumerang ketika siswa tersebut bersentuhan dengan masyarakat. Ketidaktahuan terhadap norma-norma ini akan membuat siswa menjadi asing di lingkungannya sendiri. Sifat lokal yang dicari malahan tidak akan didapat. Lingkungan mana yang salah: sekolah atau rumah? Tidak ada yang salah. Hanya saja persoalan sederhana seperti ini yang harus diselesaikan: mengapa si A patuh dan taat waktu di rumah sementara di sekolah dia menjadi tidak terkendali? Keterbukaan antar sekolah dan orangtua menjadi sangat penting.

Ketiga, pendidikan alternatif mampu membebaskan dirinya dari perangkat kurikulum yang sifatnya merupakan kebijakan pemerintah (top-down) karena sifatnya yang lokal. Sekolah harus mampu menjadikan dirinya sebuah universitas. Artinya, sekolah dinilai bukan berdasar aspek kuantitatif tetapi biarkan masyarakat yang menilai lulusannya. Guru dan siswa harus dibebaskan dari standarisasi dan target sehingga guru bisa mengarahkan siswa pada intisari atau filosofi suatu pelajaran. Berangkat dari filosofi inilah, siswa akan menjadi seorang begawan, pakar, atau ahli di bidangnya. To know one thing about anything, itu fungsi sekolah biasa. Sekolah yang luar biasa berjargon, to know anything about one thing. Pada tataran praktisnya, kurikulum sebagai jantung pendidikan harus terlebih dahulu dimatangkan.

Djalaluddin Rakhmat, pakar komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dikenal lewat topik tulisannya yang berat tetapi mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Ketika ditanya bagaimana tulisannya bisa mudah dicerna, ia hanya menjawab karena ia memahami betul apa yang ia sampaikan. Siswa kerapkali menuntut jawaban yang tuntas sehingga guru harus mampu menjelaskan dengan mudah konsep suatu ilmu. Untuk itu dibutuhkan pengalaman mengajar dan strata pendidikan pengajar yang lebih tinggi. Guru sebagai penanggung jawab masa depan suatu bangsa harus memiliki akses terhadap kemajuan informasi. Guru sebaiknya tidak terlalu memikirkan urusan rumah tangga (moonlighting) tetapi lebih kepada perluasan wawasan. Ini dicapai misalnya dengan mengikuti upgrading dan menjadi anggota organisasi keprofesian. Guru pada akhirnya adalah sebuah pilihan yang profesional, seperti laiknya dokter dan dosen.

Ketiga hal di atas dapat diringkas menjadi seperti ini: temukan bakat siswa, perbincangkan dengannya apakah ia siap dengan konsekuensi yang akan terjadi atas pilihannya, kemudian didiklah siswa tadi dengan profesional supaya menjadi manusia yang pamungkas.